Archive for April, 2011

Pendidikan seksualitas pada anak: Si kecil ingin tahu, orangtua jangan malu

Prinsip pendidikan seksualitas pad anak sebenarnya adalah membuat seorang anak tahu benar tentang jenis kelaminnya, paham bahwa perasaan seksual adalah bagian hidup yang menyenangkan, bisa mengembangkan kontrol terhadap diri sendiri dan memberikan penilaian yang tepat tentang suatu tindakan yang terkait dengan urusan seksualitas.
Sedang belajar Continue reading

Advertisements

Beberapa cara menjadi orangtua lebih baik

Apakah anda orang yang malas senyum? Kalau jawabannya: Ya, lalu perhatikan anak-anak anda. Sebuah riset mengatakan, anak-anak khususnya yang masih sangat muda, bercermin pada ekspresi wajah anda. Jadi semakin banyak anda tersenyum, lebih mudha pula anak anda tersenyum serta mendapat perasaan yang lebih menggembirakan.
Senyum adalah satu dari banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Banyak pekerjaan yang mesti dilakukan orangtua, mulai dari urusan rumah sampai kantor, juga urusan sosial. Rangkaian kegiatan itu membuat orang kadang-kadang hidup dalam ketegangan dan merasa kehabisan waktu. Akibatnya orangtua sering lupa merespon cerita anak secara menyenangkan. Padahal, senyum sederhana sekalipun bisa melepaskan ketegangan dan segera meningkatkan kegembiraan anda. Kendati anda tidak ingin tersenyum, para ilmuwan menganjurkan, jangan segan-segan memaksa bibir anda untuk tersenyum, karena hal ini akan meningkatkan semangat anda.
Mempunyai anak kecil kadang memang membuat anda jadi tak sabar, terutama kalau mereka membandel, melanggar aturan yang anda berikan. Misalnya, sudah dipesan berulang kali, masih saja si kecil melanggar pesan anda. Ada seorang ibu mempunyai cara menarik untuk mengatasi kekesalannya. Kebetulan kejadiannya di rumah, sehingga dia bisa pergi ke lemari es, mencuci muka dengan es-es itu. “Es yang dingin itu ternyata mendinginkan hati saya juga. Dan itu mengingatkan saya agar tidak bertengkar dengan anak saya,“ katanya. Continue reading

Orangtua bijak pun sering lakukan kesalahan

Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan mudah. seperti dikatakan oleh seorang ibu dari anak berusia 14 tahun, “Saya mengatakan kepada anak saya bahwa saya tak pernah di didik untuk menjadi orangtua, karena itu sangat mungkin saya membuat kesalahan.” dengan berbicara ini, ia berharap si anak secepatnya memberitahu dia manakala ia berbuat kekeliruan. “Tolong beritahu kalau ibu melakukan kesalahan, percayalah ibu tak marah. dengan begitu ibu tahu apa yang sebenarnya ada dalam benakmu dan apa yang kau inginkan,” begitu jelasnya.
banyak orangtua melakukan kesalahan, sebaik apapun orangtua itu. Jack Shonkoff, seorang peneliti di Pusat kesehatan Massachusetts, AS, menemukan rata-rata orangtua yang baik melakukan 10 kesalahan sehari.
1. kesalahan umum
Disadari atau tidak, orangtua banyak melakukan kesalahan. antara lain mereka sering tidak sabar dalam menghadapi
anak, menaruh harapan tinggi terhadap anak atau sebaliknya terlalu rendah menaruh harapan, tidak menjadi pendengar
yang baik dan tidak konsisten dalam menerapkan disiplin, membiarkan anak terlalu banyak menonton televisi,
membolehkan mereka makan prmen banyak-banyak daan terlalu melindungi anak (overprotective).
2. Minta maaf
kalau kebetulan merasa melakukan kesalahan, orangtua hendaknya tidak segan minta maaf kepada anak. sekecil
apapun kesalahan yang dilakukan orangtua kadang bisa menimbulkan “bekas”. dengan meminta maaf, orangtua tidak
lagi menyimpan beban dalam hatinya. tindakan ini lebih penting artinya untuk orangtua itu sendiri, dibandingkan dengan
manfaatnya untuk mendidik anak berbuat serupa. dengan perkataan maaf ini, persoalan menjadi jelas dan tidak
meninggalkan prasangka-prasangka buruk bagi si anak. Continue reading

Hargailah pertanyaan anak anda

Anak yang banyak mengajukan pertanyaan cenderung lebih cerdas dibanding yang sebaliknya. kenyataan ini merupakan salah satu temuan lapangan menarik dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh UKSW salatiga. dalam penelitian tersebut juga ditemukan bukti bahwa anak yang banyak mengajukan permintaan dan bahkan suka “mengganggu” orangtuanya cenderung lebih cerdas daripada anak yang pasif. ini adalah sebuah contoh yang menunjukkan banyak sedikitnya interaksi antara anak dengan orangtua atau dengan orang dewasa lainnya akan menentukan perkembangan kecerdasan anak. Continue reading

Pengaruh “Label” dari orangtua untuk anak

Seringkali dalam kelaurga, setiap anak mempunyai nama panggilan atau dipanggil berdasarkan kebiasaanya semasa kecil. misalnya, anak itu tak suka makan hingga tubuhnya kurus, lalu oleh keluarganya dipanggil “Si ceking”. julukan-julukan semasa kecil itu tak jarang berkembang terus mengikuti pertumbuhan si anak. pemberian predikat itu tidak dimaksudkan buruk, justru untuk menunjukkan rasa sayang orangtua dan menerima anak apa adanya dia.

tanpa disadari pemberian “label” semacam itu bisa mempengaruhi perkembangan si anak. “Label” itu bisa mempengaruhi citra anak terhadap dirinya sendiri. si pemalu, misalnya, akan sulit mengembangkan dirinya menjadi si pemberani karena “cap” malu yang menempel pada dirinya tanpa disadari terus mempengaruhi pandangan si anak terhadap dirinya sendiri. Continue reading

Banyak orangtua tidak mengerti anaknya

Mendidik dan membesarkan anak agar menjadi manusia berguna adalah tanggung jawab orangtua. namun untuk menjadi orangtua dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah. banyak orangtua tidak bisa mengerti anaknya dan banyak juga anak yang tidak mengerti orangtuanya. akibatnya hubungan orangtua-anak menjadi renggang dan muncul konflik. menghadapi situasi seperti itu, orangtua sering menggunakan prerogatifnya. orangtua merasa tindakannya benar karena semua itu dilakukan demi kebaikan anak. yang terjadi selanjutnya justru anak makin jauh dari orangtua. komunikasi terputus, anak tega membohongi orangtua, atau bahkan melarikan diri dari orangtua. (F.X. Puniman)

Komunikasi Orangtua-anak, kunci merangsang keinginan belajar anak

Kegiatan di sekolah bisa menjadi salah satu topik untuk meningkatkan komunikasi orangtua dengan anak. orangtua menjadi tahu apa yang dikerjakan anaknya selama di sekolah, berdasarkan cerita si anak. sebaliknya anak pun terpacu untuk lebih aktif di sekolah. anak akan merasa bangga bisa bercerita panjang lebar kepada orangtuanya. orangtua pun kemudian bisa memahami apa yang disukai dan tidak disukai anaknya, atau kekurangan dan kelebihannya. diskusi ringan tentang suasana kelas anak, misalnya, bukan hanya membuahkan keakraban tetapi juga mempunyai pengaruh positif terhadap pendidikan anak. (Chris Pudjiastuti)