Orangtua bijak pun sering lakukan kesalahan

Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan mudah. seperti dikatakan oleh seorang ibu dari anak berusia 14 tahun, “Saya mengatakan kepada anak saya bahwa saya tak pernah di didik untuk menjadi orangtua, karena itu sangat mungkin saya membuat kesalahan.” dengan berbicara ini, ia berharap si anak secepatnya memberitahu dia manakala ia berbuat kekeliruan. “Tolong beritahu kalau ibu melakukan kesalahan, percayalah ibu tak marah. dengan begitu ibu tahu apa yang sebenarnya ada dalam benakmu dan apa yang kau inginkan,” begitu jelasnya.
banyak orangtua melakukan kesalahan, sebaik apapun orangtua itu. Jack Shonkoff, seorang peneliti di Pusat kesehatan Massachusetts, AS, menemukan rata-rata orangtua yang baik melakukan 10 kesalahan sehari.
1. kesalahan umum
Disadari atau tidak, orangtua banyak melakukan kesalahan. antara lain mereka sering tidak sabar dalam menghadapi
anak, menaruh harapan tinggi terhadap anak atau sebaliknya terlalu rendah menaruh harapan, tidak menjadi pendengar
yang baik dan tidak konsisten dalam menerapkan disiplin, membiarkan anak terlalu banyak menonton televisi,
membolehkan mereka makan prmen banyak-banyak daan terlalu melindungi anak (overprotective).
2. Minta maaf
kalau kebetulan merasa melakukan kesalahan, orangtua hendaknya tidak segan minta maaf kepada anak. sekecil
apapun kesalahan yang dilakukan orangtua kadang bisa menimbulkan “bekas”. dengan meminta maaf, orangtua tidak
lagi menyimpan beban dalam hatinya. tindakan ini lebih penting artinya untuk orangtua itu sendiri, dibandingkan dengan
manfaatnya untuk mendidik anak berbuat serupa. dengan perkataan maaf ini, persoalan menjadi jelas dan tidak
meninggalkan prasangka-prasangka buruk bagi si anak.
sering terjadi orangtua memukul anak tanpa sebab jelas, hanya karena kebetulan saat itu orangtua sedang tertimpa
masalah. atau bisa juga dalam bentuk bentakan-bentakan.sangat penting pemahanan pada anak bahwa setiap manusia
bisa marah, namun bukan berarti tidak mencintainya lagi. “Kebanyakan orang dewasa berpikir bahwa jika seseorang
marah, artinya orang itu akan meninggalkannya. padahal perasaan sayang dan marah itu bukan sesuatu yang harus
dipertentangkan. marah bisa jadi merupakan bagian dari perasaan menyayangi. menghadapi orang yang sedang marah,
harus diakui merupakan hal yang tak mudah. apalagi karena selalu ditanamkan bahwa emosi negatif harus dihindari.
karena itu kondisi-kondisi marah, sedih atau frustasi seringkali tidak di tolelir. padahal perasaan demikian normal dan
bisa menghingapi siapa saja, dari mulai orangtua, remaja dan bahkan anak-anak.
celakanya, acapkali orangtua merasa terganggu jika anaknya uring-uringan. mereka seakan-akan tidak memberi
kesempatan kepada anak untuk memiliki perasaan-perasaan negatif. menjadi orangtua memang dituntut untuk
menyadari begitu banyak hal yang kadang membuat jengkel, merasa tidak aman, serta merasa bersalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: