Archive for the ‘Artikel Keluarga’ Category

Bila anak terpaksa ditinggal di rumah

Siapa orangtua yang tak berat meninggalkan anak di rumah tanpa pengawasan orang dewasa?

meski jumlahnya tak banyak, beberapa orangtua di kota-kota besar diketahui terpaksa melakukan hal seperti itu. itu sebabnya, muncul tempat-tempat penitipan anak. lebih dari itu, di negara tertentu sudah ada hukum yang mengatur usia minimal anak yang bisa ditinggalkan di rumah tanpa pengawasan orang dewasa.
1. persiapan
sulit menentukan berapa usia minimal anak bisa ditinggalkan di rumah sendirian. untuk ukuran kota besar, barangkali usia kelas satu SMP bisa dipakai sebagai pegangan. anak usia 12 atau 13 tahun diasumsikan sudah mempunyai nalar yang cukup untuk menjaga keselamatan mereka serta juga bisa diharapkan untuk mandiri. semakin muda usia anak, sebenarnya semakin besar buat anak ditinggal orangtuanya sebab secara alamiah banyak anak kecil mempunyai banyak ketakutan yang irasional. Continue reading

Advertisements

Mendisiplinkan anak, mulai dari orangtua

Ada hal penting yang harus diketahui orangtua supaya efektif dalam menerapkan disiplin pada anak, yakni orangtua harus belajar mengendalikan marah, memecahkan masalah pada suatu situasi tertentu dan mendapatkan dukungan dari anggota keluarga yang lainnya.
Banyak orangtua tidak tahu apa yang harus diperbuat ketika anak mulai melanggar aturan yang telah ditetapkan bersama dalam keluarga. Yang terjadi kemudian adalah reaksi emosional yang akhirnya menimbulkan rasa bersalah orangtuanya.
Tuntutan orangtua untuk disiplin sebelum menerapkan disiplin pada anak merupakan kesimpulan dari serangkaian penelitian psikologi anak. Orangtua akan menjadi seorang penerap disiplin yang paling tidak meyakinkan ketika menerapkan sesuatu yang tidak diyakini kebenarannya.
Pendekatan yang bisa digunakan orangtua adalah mengkombinasi cinta dengan batasan-batasan yang telah disepakati bersama dalam keluarga. Berbagai penelitian menunjukkan orangtua, termasuk mereka yang mendapat pendidikan dengan disiplin amat keras ketika muda, bisa mengatasi berbagai masalah mengenai disiplin pada anak-anaknya.
Penerapan disiplin yang efektif membutuhkan orangtua yang sensitif terhadap kebutuhan anak-anaknya. Anak akan menerima disiplin yang diterapkan dalam keluarga bila merasa dicintai dan dibutuhkan. Pujian dan cinta saja tidak cukup. Orangtua yang terlalu longgar dan membolehkan anaknya berbuat apa saja tidak mendukung pengembangan kemampuan anak dalam pengendalian diri. Continue reading

Kalau anak mulai bertanya tentang Tuhan

Pertanyaan anak tentang Tuhan tentu cukup membingungkan orangtua untuk menjawabnya. Terlebih bila pertanyaan itu berasal dari anak yang lebih besar yang sudah menuntut penjelasan logis dan meminta bukti. Pada anak balita, keingintahuan itu belum membutuhkan penjelasan serius karena mereka belum mampu berpikir secara abstrak. Mereka hanya minta pertanyaannya ditanggapi. Sehingga bila mereka bertanya tentang keberadaan Tuhan, orangtua bisa menjawabnya dengan mengatakan karena Tuhan itu sangat sempurna, maka tidak ada contohnya. Orangtua lalu bisa menunjukkan keberadaan Tuhan dengan menunjukkan karya Tuhan, seperti tanaman, binatang, manusia, batu, awan, langit dan sebagainya. Di sini orangtua dapat menekankan sifat baik dari Tuhan, supaya anak punya konsep positif tentang Tuhan. Sebaliknya bila sejak dini anak sudah diberitahu mengenai sifat Tuhan yang keras dan bisa menghukum, anak-anak bisa memiliki konsep negatif tentang Tuhan. Pengenalan akan Tuhan dapat dimulai sejak bayi. Seorang psikolog mengatakan pengalaman berperan dalam membantuk kepribadian anak. Pengalaman anak ini bisa diperoleh lewat apa saja. Pertama-tama pengalaman ini diperolehnya melalui pendengaran. Apa yang didengar akan terekam dan bila tiba waktunya, anak akan bertanya. Berdasarkan perkembangan psikologi anak, orangtua sebaiknya sering mengucapkn kata-kata yang baik meskipun bagi si anak belum tentu punya arti. Misalnya mengucap doa sebelum dan sesudah makan, doa sebelum tidur, ketika akan bepergian, dan sebagainya. Makin banyak perkataan baik yang didengar seorang anak maka makin luas cakrawala berpikir baik yang dimiliki anak.

Pendidikan seksualitas pada anak: Si kecil ingin tahu, orangtua jangan malu

Prinsip pendidikan seksualitas pad anak sebenarnya adalah membuat seorang anak tahu benar tentang jenis kelaminnya, paham bahwa perasaan seksual adalah bagian hidup yang menyenangkan, bisa mengembangkan kontrol terhadap diri sendiri dan memberikan penilaian yang tepat tentang suatu tindakan yang terkait dengan urusan seksualitas.
Sedang belajar Continue reading

Beberapa cara menjadi orangtua lebih baik

Apakah anda orang yang malas senyum? Kalau jawabannya: Ya, lalu perhatikan anak-anak anda. Sebuah riset mengatakan, anak-anak khususnya yang masih sangat muda, bercermin pada ekspresi wajah anda. Jadi semakin banyak anda tersenyum, lebih mudha pula anak anda tersenyum serta mendapat perasaan yang lebih menggembirakan.
Senyum adalah satu dari banyak hal yang dapat dilakukan untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Banyak pekerjaan yang mesti dilakukan orangtua, mulai dari urusan rumah sampai kantor, juga urusan sosial. Rangkaian kegiatan itu membuat orang kadang-kadang hidup dalam ketegangan dan merasa kehabisan waktu. Akibatnya orangtua sering lupa merespon cerita anak secara menyenangkan. Padahal, senyum sederhana sekalipun bisa melepaskan ketegangan dan segera meningkatkan kegembiraan anda. Kendati anda tidak ingin tersenyum, para ilmuwan menganjurkan, jangan segan-segan memaksa bibir anda untuk tersenyum, karena hal ini akan meningkatkan semangat anda.
Mempunyai anak kecil kadang memang membuat anda jadi tak sabar, terutama kalau mereka membandel, melanggar aturan yang anda berikan. Misalnya, sudah dipesan berulang kali, masih saja si kecil melanggar pesan anda. Ada seorang ibu mempunyai cara menarik untuk mengatasi kekesalannya. Kebetulan kejadiannya di rumah, sehingga dia bisa pergi ke lemari es, mencuci muka dengan es-es itu. “Es yang dingin itu ternyata mendinginkan hati saya juga. Dan itu mengingatkan saya agar tidak bertengkar dengan anak saya,“ katanya. Continue reading

Orangtua bijak pun sering lakukan kesalahan

Menjadi orangtua memang bukan pekerjaan mudah. seperti dikatakan oleh seorang ibu dari anak berusia 14 tahun, “Saya mengatakan kepada anak saya bahwa saya tak pernah di didik untuk menjadi orangtua, karena itu sangat mungkin saya membuat kesalahan.” dengan berbicara ini, ia berharap si anak secepatnya memberitahu dia manakala ia berbuat kekeliruan. “Tolong beritahu kalau ibu melakukan kesalahan, percayalah ibu tak marah. dengan begitu ibu tahu apa yang sebenarnya ada dalam benakmu dan apa yang kau inginkan,” begitu jelasnya.
banyak orangtua melakukan kesalahan, sebaik apapun orangtua itu. Jack Shonkoff, seorang peneliti di Pusat kesehatan Massachusetts, AS, menemukan rata-rata orangtua yang baik melakukan 10 kesalahan sehari.
1. kesalahan umum
Disadari atau tidak, orangtua banyak melakukan kesalahan. antara lain mereka sering tidak sabar dalam menghadapi
anak, menaruh harapan tinggi terhadap anak atau sebaliknya terlalu rendah menaruh harapan, tidak menjadi pendengar
yang baik dan tidak konsisten dalam menerapkan disiplin, membiarkan anak terlalu banyak menonton televisi,
membolehkan mereka makan prmen banyak-banyak daan terlalu melindungi anak (overprotective).
2. Minta maaf
kalau kebetulan merasa melakukan kesalahan, orangtua hendaknya tidak segan minta maaf kepada anak. sekecil
apapun kesalahan yang dilakukan orangtua kadang bisa menimbulkan “bekas”. dengan meminta maaf, orangtua tidak
lagi menyimpan beban dalam hatinya. tindakan ini lebih penting artinya untuk orangtua itu sendiri, dibandingkan dengan
manfaatnya untuk mendidik anak berbuat serupa. dengan perkataan maaf ini, persoalan menjadi jelas dan tidak
meninggalkan prasangka-prasangka buruk bagi si anak. Continue reading

Hargailah pertanyaan anak anda

Anak yang banyak mengajukan pertanyaan cenderung lebih cerdas dibanding yang sebaliknya. kenyataan ini merupakan salah satu temuan lapangan menarik dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh UKSW salatiga. dalam penelitian tersebut juga ditemukan bukti bahwa anak yang banyak mengajukan permintaan dan bahkan suka “mengganggu” orangtuanya cenderung lebih cerdas daripada anak yang pasif. ini adalah sebuah contoh yang menunjukkan banyak sedikitnya interaksi antara anak dengan orangtua atau dengan orang dewasa lainnya akan menentukan perkembangan kecerdasan anak. Continue reading